Senin, 18 Januari 2021

TUGAS MANDIRI 05 PENDIDIKAN AGAMA DAN ASAH SKILL KAMPUS MILENIAL ITBI

NAMA         : JUNITA SIMANJUNTAK 

KELAS         : PAGI 

JURUSAN    : AKUNTANSI     

 

Gambar 01 ; Foto keluarga Besar Simanjuntak




Tanggung Jawab Orang Tua

  • Tanggung jawab apa yang suami dan istri tanggung bersama dalam membesarkan anak-anak mereka?

Setiap orang memiliki kedudukan yang penting dalam keluarganya. Melalui para nabi Tuhan telah menjelaskan bagaimana hendaknya perilaku dan perasaan para ayah, ibu, dan anak terhadap satu sama lain. Sebagai suami, istri, dan anak, kita perlu mempelajari apa yang Tuhan harapkan untuk kita lakukan untuk memenuhi tujuan kita sebagai sebuah keluarga. Jika kita semua melakukan bagian kita, kita akan dipersatukan secara kekal.

Dalam tanggung jawab kudus peran sebagai orang tua, “para ayah dan ibu berkewajiban untuk saling membantu sebagai pasangan yang setara” (“Keluarga: Pernyataan kepada Dunia,” Liahona, Oktober 2004, 49). Mereka hendaknya bekerja bersama untuk memenuhi kebutuhan rohani, emosi, intelektual, dan jasmani keluarga.

 

 

Foto Ayah &Ibu

 

 

Beberapa tanggung jawab haruslah dipikul bersama oleh suami dan istri. Orang tua hendaknya mengajarkan Injil kepada anak-anak mereka. Tuhan memperingatkan bahwa jika orang tua tidak mengajari anak-anak mereka tentang iman, pertobatan, pembaptisan, dan karunia Roh Kudus, dosa akan dipikulkan ke atas kepala orang tua. Orang tua hendaknya juga mengajari anak-anak mereka untuk berdoa dan untuk mematuhi perintah-perintah Tuhan.

Salah satu cara terbaik orang tua dapat mengajari anak-anak mereka adalah melalui teladan. Suami dan istri hendaknya memperlihatkan kasih dan rasa hormat terhadap satu sama lain dan terhadap anak-anak mereka melalui baik tindakan maupun perkataan. Adalah penting untuk mengingat bahwa setiap anggota keluarga adalah anak Allah. Orang tua hendaknya memperlakukan anak-anak mereka dengan kasih dan hormat, bersikap tegas namun baik hati terhadap mereka.

Orang tua hendaknya memahami bahwa kadang-kadang anak-anak akan membuat pilihan yang salah bahkan setelah mereka diajari kebenaran. Ketika hal ini terjadi, orang tua hendaknya tidak menyerah. Mereka hendaknya terus mengajari anak-anak mereka, menyatakan kasih bagi mereka, menjadi teladan yang baik bagi mereka, serta berpuasa dan berdoa bagi mereka.

Kitab Mormon memberi tahu kita bagaimana doa-doa seorang ayah menolong putranya, yang pemberontak, kembali ke jalan Tuhan. Alma yang Muda telah menjauh dari ajaran-ajaran ayahnya yang saleh, Alma, dan berusaha untuk menghancurkan Gereja. Sang ayah berdoa dengan iman bagi putranya. Alma yang Muda dikunjungi oleh seorang malaikat dan bertobat dari jalan hidupnya yang sesat. Dia menjadi seorang pemimpin Gereja yang hebat.

 

Orang tua dapat menyediakan suasana kekhidmatan dan rasa hormat dalam rumah jika mereka mengajari dan membimbing anak-anak mereka dalam kasih. Orang tua hendaknya juga menyediakan pengalaman-pengalaman yang bahagia bagi anak-anak mereka.

  • Bagaimana para suami dan istri dapat saling mendukung dalam peranan mereka? Ke mana para orang tua tunggal dapat berpaling meminta bantuan?

    Tanggung Jawab Ayah

  • Apa teladan positif yang telah Anda lihat dari para ayah yang membesarkan anak-anak mereka?

“Berdasarkan rancangan ilahi, para ayah hendaknya memimpin keluarga mereka dengan kasih dan kebenaran, serta bertanggung jawab untuk menyediakan kebutuhan hidup dan perlindungan bagi keluarganya” (Liahona, Oktober 2004, 49). Seorang ayah yang layak yang adalah anggota Gereja memiliki kesempatan untuk memegang imamat, yang menjadikannya pemimpin keimamatan keluarganya. Dia hendaknya membimbing keluarganya dalam kerendahan hati dan kebaikan alih-alih dengan paksaan atau kekejaman. Tulisan suci mengajarkan bahwa mereka yang memegang imamat hendaknya memimpin orang lain melalui bujukan, kelembutan, kasih, dan kebaikan hati.

Ayah berbagi berkat-berkat keimamatan dengan anggota keluarganya. Ketika seorang pria memegang Imamat Melkisedek, dia dapat berbagi berkat-berkat ini dengan melayani yang sakit dan memberikan berkat-berkat imamat yang khusus. Di bawah arahan seorang pemimpin imamat ketua, dia dapat memberkati bayi, membaptis, menetapkan, serta melaksanakan tata cara keimamatan. Dia hendaknya memberikan teladan yang baik bagi keluarganya dengan menaati perintah-perintah. Dia hendaknya juga memastikan keluarga berdoa bersama dua kali sehari dan mengadakan malam keluarga.

 

Ayah hendaknya meluangkan waktu dengan setiap anak secara individu. Dia hendaknya mengajari anak-anaknya asas-asas yang benar, berbicara dengan mereka mengenai masalah dan keprihatinan mereka, serta menasihati mereka dengan penuh kasih. Beberapa teladan yang baik ditemukan dalam Kitab Mormon.

Adalah juga tugas ayah untuk menyediakan kebutuhan jasmani keluarganya, dengan memastikan mereka memiliki makanan, tempat tinggal, pakaian, dan pendidikan yang dibutuhkan. Bahkan jika dia sendiri tidak dapat menyediakan semua kebutuhan itu, dia tidak boleh mengalihkan tanggung jawab atas pemeliharaan keluarganya.

 

Tanggung Jawab Ibu

  • Apa teladan positif yang telah Anda lihat dari para ibu yang membesarkan anak-anak mereka?

Presiden David O. McKay mengatakan bahwa peran sebagai ibu adalah pemanggilan yang paling mulia (lihat Ajaran-Ajaran Presiden Gereja: David O. McKay [2003], 186). Itu merupakan sebuah pemanggilan sakral, suatu kerekanan dengan Allah dalam mendatangkan anak-anak roh-Nya ke dalam dunia. Melahirkan anak-anak merupakan salah satu yang terbesar dari semua berkat. Jika tidak ada seorang ayah di rumah, ibulah yang memimpin keluarga tersebut.

Presiden Boyd K. Packer memuji para wanita yang tidak dapat memiliki anak-anak mereka sendiri namun berusaha untuk merawat orang lain. Dia mengatakan: “Ketika saya berbicara tentang para ibu, saya berbicara bukan hanya tentang para wanita yang telah melahirkan anak-anak, namun juga tentang mereka yang telah mengasuh anak-anak yang dilahirkan orang lain, dan tentang banyak wanita yang, tanpa memiliki anak mereka sendiri, telah menjadi ibu bagi anak-anak orang lain” (Mothers [1977], 8).

Para nabi zaman akhir telah mengajarkan, “Para ibu terutama bertanggung jawab untuk mengasuh anak-anak mereka” (Liahona, Oktober 2004, 49). Seorang ibu perlu meluangkan waktu bersama anak-anaknya dan mengajari mereka Injil. Dia hendaknya bermain dan bekerja bersama mereka agar mereka dapat menyingkapkan dunia di sekitar mereka. Dia juga perlu membantu keluarganya tahu bagaimana menjadikan rumah sebuah tempat yang menyenangkan. Jika dia hangat dan penuh kasih, dia menolong anak-anaknya merasa baik mengenai diri mereka sendiri.

Kitab Mormon menjabarkan tentang sebuah kelompok yang terdiri dari 2.000 remaja putra yang bangkit menjadi hebat karena ajaran ibu mereka (lihat Alma 53:16–23). Dipimpin oleh Nabi Helaman, mereka pergi berperang melawan musuh mereka. Mereka telah belajar untuk menjadi jujur, berani, dan dapat dipercaya dari ibu mereka. Ibu mereka juga mengajarkan kepada mereka bahwa jika mereka tidak ragu, Allah akan membebaskan mereka (lihat Alma 56:47). Mereka semua selamat dalam peperangan. Mereka mengungkapkan iman pada ajaran-ajaran ibu mereka, dengan mengatakan, “Kita tidak meragu-ragukan, dan ibu kita mengetahuinya” (Alma 56:48). Setiap ibu yang memiliki kesaksian dapat memiliki dampak yang besar terhadap anak-anaknya.

 

Tanggung Jawab Anak-Anak

  • Bagaimana anak-anak menolong orang tua mereka membangun sebuah rumah tangga yang bahagia?

 


 Foto anak pertama ( M. Simanjuntak )

 

Anak-anak berbagi dengan orang tua mereka tanggung jawab dalam membangun sebuah rumah tangga yang bahagia. Mereka hendaknya mematuhi perintah-perintah dan bekerja sama dengan anggota keluarga lainnya. Tuhan tidak senang ketika anak-anak bertengkar (lihat Mosia 4:14).

 


 Gambar Anak Kedua ( A. Simanjuntak )

Tuhan telah memerintahkan anak-anak untuk menghormati orang tua mereka. Dia berfirman, “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu” (Keluaran 20:12). Menghormati orang tua artinya mengasihi dan menghargai mereka. Itu juga berarti mematuhi mereka. Tulisan suci memberi tahu anak-anak untuk “[menaati] orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian” (Efesus 6:1).

 


 Foto Anak Ketiga ( J. Simanjuntak )

 

Presiden Spencer W. Kimball mengatakan bahwa anak-anak hendaknya belajar untuk bekerja dan berbagi tanggung jawab di rumah dan di kebun. Mereka hendaknya diberi tugas untuk menjaga rumah rapi dan bersih (lihat Ajaran-Ajaran Presiden Gereja: Spencer W. Kimball [2006], 146).

 


 Foto Anak Keempat ( J. Simanjuntak )

  • Apa yang hendaknya anak-anak lakukan untuk menghormati dan menghargai orang tua mereka?

  • Apa yang orang tua Anda lakukan yang menuntun Anda untuk menghormati dan menghargai mereka?

    Menerima Tanggung Jawab Mendatangkan Berkat

    • Apa yang dapat setiap anggota keluarga lakukan untuk menjadikan rumah sebuah tempat yang bahagia?

    Sebuah keluarga yang penuh kasih dan bahagia tidak terjadi secara kebetulan. Setiap orang dalam keluarga itu haruslah melakukan bagiannya. Tuhan telah memberi tanggung jawab baik kepada orang tua maupun anak-anak. Tulisan suci mengajarkan bahwa kita harus bijaksana, gembira, dan bertimbang rasa terhadap orang lain. Ketika kita berbicara, berdoa, menyanyi, atau bekerja bersama, kita dapat menikmati berkat-berkat keharmonisan dalam keluarga kita (lihat Kolose 3).

     

 








PENDIDIKAN AGAMA DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER




BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah

Pendidikan semakin mengalami perubahan mengikuti transisi di segala bidang. Pendidikan yang baik menunjukkan kualitas masyarakat di daerah tersebut. Namun tingkah laku dan moral masyarakat pun ikut mengalami pergeseran. Maraknya penodaan moral salah satunya di sebabkan buruknya pendidikan. Pendidikan agama sebagai pelopor keilmuan memiliki potensi yang besar dalam menanggulangi kemerosotan individu. Pribadi agamis akan mampu meminimalisir akibat buruk dari arus perkembangan yang sangat deras. Karakter agamis sebaiknya dibentuk sejak masa anak hingga mempermudah perjalanan hidupnya kelak.

Semakin maraknya perubahan dan penodaan moral semata-mata dimulai dari kurangnya akhlak atau karakter yang bersifat agamis pada diri seseorang. Seseorang yang mampu menanamkan jiwa yang beragama dengan baik, maka ia dapat menjalani kehidupan multicultural dengan positif. Lain halnya apabila ia kurang berkarakter agamis maka akan dengan mudah melakukan akhlak negatif.

Pendidikan agama adalah salah satu cabang aspek pendidikan yang mayoritas dibutuhkan oleh pribadi beragama. Ia sebagai pedoman hidup dan merupakan salah satu sarana penanaman karakter yang benar. Didalamnya terdapat contoh-contoh karakter agama yang sangat membantu tiap pribadi dalam menghadapi budaya negative. Karakter yang baik akan memudahkan pengembangan tiap individu dalam bermasyarakat.

Karena itu saya berkeinginan untuk menjelaskan pembentukan karakter melalui fungsi agama. Hal ini disebabkan karakter individu sangat dipengaruhi oleh apa yang diterima oleh tiap seseorang sejak masa kecilnya.

 

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana peran pendidikan agama dalam pembentukan karakter ?
2.      Bagaimana pengertian pendidikan agama dan pembentukan karakter ?
3.      Bagaimana hubungan pendidikan agama dalam pembentukan karakter ?

C.     Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui peran, pengertian pendidikan agama dan pembentukan karakter dan bagaimana hubungan pendidikan agama dalam pembentukan karakter.

D.    Metode Penulisan
Metode penulisan makalah ini dilakukan dengan melalui upaya pengumpulan data yaitu :
·        Studi Pustaka               : melalui cara ini penyusun dapat mengumpulkan data yang berkenaan dengan objek penelitian.
 
BAB II
PEMBAHASAN

A.     Peran Pendidikan Agama dalam Pembentukan Karakter
Untuk melihat peran pendidikan agama dalam pembentukan karakter, sekurang-kurangnya harus dibicarakan apa itu karakter dan apa inti pendidikan agama. Yang “inti” itulah yang besar dalam pembentukan karakter. Penting pula dibicarakan upaya yang harus dilakukan agar pendidikan agama itu berperan dalam pembentukan karakter.

1.      Pengertian Pendidikan Agama
Pendidikan berasal dari kata “didik” yang berarti melatih atau mengajar. Sedangkan menurut istilah, pendidikan adalah usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan. Agama berasal dari bahasa sansekerta yang berarti tidak kacau atau teratur. Agama dapat membebaskan manusia dan kekacauan yang dihadapi dalam hidupnya bahkan menjelang matinya. Menurut terminology agama adalah suatu tata kaidah yang mengatur hubungan manusia dengan yang agung.
·        Inti Agama
Di dalam antropologi disebutkan bahwa kebudayaan (cara manusia bersikap, berfikir, dan bertindak), akan ditentukan oleh sesuatu yang diyakininya benar atau tidak. Jika telah menyangkut keyakinan, maka itu berarti telah menyangkut agama (dalam pengertian yang umum). Sedangkan didalam uraian diatas diketahui bahwa cara bersikap, berfikir, dan bertindak itulah inti dari karakter seseorang. Jadi, jelas bahwa agama merupakan hal yang amat berpengaruh dalam pembentukan karakter seseorang. Dari antropologi kita mengetahui bahwa agama adalah inti pembentukan karakter seseorang.

2.      Pengertian Pembentukan Karakter
“ Karakter “ merupakan akar kata dari bahasa latin yang berarti dipahat (Mark Rutland:2009,3). Hakekat karakter ialah menurut Simon Philips, karakter adalah kumpulan tata nilai yang menuju pada suatu system, yang melandasi pemikiran, sikap dan perilaku yang ditampilkan. Sedangkan Doni Koesoema, memahami bahwa karakter sama dengan kepribadian. Kepribadian dianggap sebagai cirri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan. Sementara Winnie, memahami bahwa istilah karakter memiliki dua pengertian. Pertama, ia menunjukkan bagaimana seseorang bertingkah laku. Apabila seseorang berperilaku tidak jujur, kejam atau rakus, tentulah orang tersebut memanifestasikan perilaku buruk. Sebaliknya, apabila seseorang berperilaku jujur, suka menolong, tentulah orang tersebut memanifestasikan karakter mulia. Kedua, apabila karakter erat keitannya dengan “personality”. Seseorang baru bisa disebut orang yang berkarakter (a person of character) apabila tingkah lakunya sesuai kaidah moral.
 
 
3.      Hubungan Pendidikan Agama dalama Pembentukan Karakter
Jadi pendidikan agama sangat efektif dalam segi edukatifnya untuk mempengaruhi pembentukan karakter yang baik. Dipandang dari segi keterkaitannya, pembentukan karakter dasar seorang anak sejak dini tentu sangat erat hubungannya dengan apa yang diajarkan dalam sisi edukatif pendidikan agama. Agama banyak memberian pengajaran yang baik dalam membentuk karakter anak, contohnya seorang anak akan bersikap santun terhadap oang yang lebih tua dibanding dia, itu karena agama sudah memberikan kita ulasan mengenai pembentukan karakter yang lebih baik.
Telah begitu banyak bukti dan realita yang benar-benar membuktikan secara nyata bahwasannya pembelajaran pendidikan agama berperan sangat besar dan mayoritas mampu mengantarkan tiap individu agamis menghadapi kesulitan dan problematika yang ada dengan arif dan bijaksana.
BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan

Betapa pentingnya pendidikan agama untuk anak kita, dan betapa pula besarnya bahaya yang terjadi akibat kurangnya pendidikan agama itu. Untuk itu, perlu kiranya kita mencari jalan yang dapat mengantar kita kepada terjaminya karakter anak-anak yang kita harapkan menjadi warga Negara yang cinta akan bangsanya, dapat menciptakan dan memelihara ketentraman dan kebahagiaan masyarakat dan bangsa di kemudian hari.

Dengan demikian, pendidikan agama dalam pembentukan karakter mempunyai visi senantiasa mengarahkan diri pada pembentukan individu yang bermoral, cakap mengambil keputusan yang tampil dalam perilakunya, sekaligus mampu berperan aktif dalam membangun kehidupan bersama dalam tantangan global.
 































































Tidak ada komentar:

Posting Komentar

JAWABAN UJIAN AKHIR SEMESTER 01 PENDIDIKAN AGAMA DAN ASAH SKILL KAMPUS MILENIAL ITBI

  NAMA            : JUNITA SIMANJUNTAK KELAS            : PAGI JURUSAN             : AKUNTANSI                 1.  ...