Kamis, 11 Februari 2021

JAWABAN UJIAN AKHIR SEMESTER 01 PENDIDIKAN AGAMA DAN ASAH SKILL KAMPUS MILENIAL ITBI

 

NAMA           : JUNITA SIMANJUNTAK

KELAS           : PAGI

JURUSAN           : AKUNTANSI

 

 

 

 

 

 

 

 

1.     

Alkitab Sebagai Pedoman Dan Dasar Kehidupan



Alkitab adalah Firman Tuhan, buku dari segala buku dan mujizat terbesar dalam sejarah umat manusia. Manfaat yang bisa kita dapatkan tatkala kita mempelajarinya sungguh tak terhingga. Alkitab adalah otoritas tertinggi dan sumber kebenaran yang sejati. Dalam suratnya kepada Timotius, rasul Paulus menekankan pentingnya Firman Allah. Ia menulis,   ”Hendaklah engkau tetap berpegang pada perkara-perkara yang telah engkau pelajari dan yang tentangnya engkau telah diyakinkan untuk percaya.” ”Perkara-perkara” yang Paulus sebutkan adalah kebenaran Alkitab yang menggerakkan Timotius untuk beriman kepada kabar baik. Dewasa ini, kebenaran tersebut juga menguatkan iman kita dan membantu kita agar tetap ”berhikmat untuk keselamatan”. (2 Tim. 3:14, 15) Kata-kata Paulus selanjutnya sering kita gunakan untuk menunjukkan kepada orang-orang bahwa Alkitab berasal dari Allah. Tetapi, kita sendiri juga bisa mendapat manfaat tambahan dari kata-kata di 2 Timotius 3:16.

Manfaaat Alkitab sebagai pedoman dasar kehidupan manusia :

1)    Ada jalan keselamatan (2 Timotius 3:15; Matius 4:4).

Allah memberikan kepada kita dari manusia berasal dan bagaimana manusia akan berakhir. Alkitab adalah yang memberitahukan kita bahwa semua manusia sudah berdosa dan telah berada di bawah hukuman kekal ( RM 3 : 23 ), dan karena Alllah adalah kudus, Ia harus menghukum semua manusia yang berdosa (RM 6 :23). Alkitab juga yang memberitahu kita bahwa kasihNya yang besar Allahmenjadi manusia guna menggantikan semua manusia untuk dihukum ( Yoh 3 :16, Kor 5 : 21, 1 Pet 2 :24 ). Dan Alkitab juga yang memberitahu bahwa jalan keselamatan sudah disediakan melalui kematian Yesus Kristus di kayu salib, dan setiap orang yang percaya kepadaNya pasti diselamatkan ( Yoh 14 : 6, KPR 4 : 12, RM 10 : 9-10).

2)    Menjadikan Kita Orang Kristen yang Kuat (1 Yohanes 2 : 14)


Hanya ada satu jalan untuk menjadi kuat rohani, yaitu dengan membaca,mempelajari,merenungkan, menghafal, dan melakukan Firman Tuhan. Yesus Kristus adalah contoh ketika Ia dicobai iblis, Ia menggunakan Firman Allah sebagai senjata untuk mengalahkan iblis. Hawa adalah contoh buruk dari orang yang tidak banyak memahami Firman Tuhan,akibatnya iblis memanfaatkan kelemahan itu untuk menjatuhkan Hawa. Alkitab merupakan gizi rohani yang harus dimakan. Alkitab disebut air susu,makanan keras dan madu ( 1 Petrus 2 : 2, Ibrani 5 : 13-14).


3)    Meyakinkan kita akan keselamatan yang kita terima Keselamatan adalah sesuatu yang sangat indah, suatu anugerah dari Tuhan yang diberikan Cuma cucma kepada setiap orang yang percaya,sehingga tampaknya terlalu indah untuk dianggap benar. Oleh karena itu salah satu kesukaran utama yang dialami oleh petobat baru adalah mereka ragu ragu akan keselamatannya. Satu satunya sumber ialah Alkitab. Itulah alasannya mengapa Alitab ditulis, agar kita memiliki keyakinan yg kokoh akan keselamatan kekal yg Tuhan sudah anugerahkan kepda kita ketika kita bertobat dan percya kepada Tuhan Yesus ( 1 Yohanes 5 : 13, Roma 5 : 9 – 10, 8 : 1 )

4)   Memberikan keyakinan dan kuasa dalam Doa ( 1 Yohanes 5 : 14 )


Dalam Yohanes 15 : 7 Tuhan berjanji, jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan FirmanKu di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki dan kamu akan menerimanya. Itu berarti bahwa melalui pemahaman Alkitab doa doa kita lebih berkuassa dan efektif sebab pada waktu kita mempelajari FirmanNya kita mengeal kehendakNya dan akibatnya kita akan belajar bagaimana caranya berdoa yang benar.


5)    Memberikan sukacita dan Damai sejahtera Salah satu dari kehidupan Kristen adalah sukacita. Tetapi seringkali sukacita tertahan oleh persoalan persoaln hidup. Tuhan Yesus berkata, semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacitaku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh ( Yoh 15 :11 ) dan salah satu bukti rohani dari kehidupan Kristen adalah damai sejahtera dalam kekuatiran dan kecemasan. Karena anda telah menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, anda mempunya hak untuk mengharap bahwa anda berbeda dan teman teman anda dibenarkan dalam mengharap untuk melihat perbedaan itu, bila Roh kudus dan dan tinggal dalam kehidupan seseorang, orang itu yg ditandai akan berbeda.perbedaan itu terutama terlihat pada emosi emosi orang itu yg ditandai oleh damai sejahtera walaupun menghadapi kesukaran kesukaran ( Kolose 3 : 16, Yoh 16 :33)


6)    Membimbing kita dalam mengambil keputusan keputusan dalam kehidupan kita ( Mazmur 119 : 105 ) Prinsip – prinsip Allah dipakai sebagai petunjuk dalam membuat keputusan keputusan. Jadikanlah Alkitab sebagai standar hidup, kompas yang memberikan petunjuk arah nasihat untuk membuat keputusan keputusan yang baik, dan patokan untuk menilai segala sesuatu maka hidup anda akan bahagia dan berhasil.


 

2.    

KEHIDUPAN KEKAL


Kehidupan kekal bukan semata-mata berjalannya tahun demi tahun. Istilah Yunani "kekal" yang sering dijumpai dalam Perjanjian Baru adalah aiónios, yang mengandung ide kuantitas (jumlah) serta kualitas. Kehidupan kekal tidak dihubungkan dengan konsep "tahun" sama sekali, karena kehidupan kekal berada di luar hitungan wakta. Kehidupan kekal berjalan baik dalam waktu yang dapat diukur, serta diluar waktu.

Oleh karena ini, kehidupan kekal perlu dianggap sebagai sesuatu yang dapat dialami umat Kristen sekarang. Orang percaya tidak perlu "menunggu" untuk hidup kekal, karena kehidupan kekal bukan sesuatu yang dimulai ketika mereka mati. Sebaliknya, kehidupan kekal dimulai ketika seseorang beriman pada Kristus. Ialah milik kita sekarang. Yohanes 3:36 mengajar, "Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal..." Perhatikan bahwa orang percaya "beroleh" (bentuk waktu sekarang) hidup ini (bentuk waktu sekarang juga ditemukan dalam versi Yunani). Kita juga menemukan bentuk waktu sekarang dalam ayat Yohanes 5:24 dan Yohanes 6:47. Fokus kehidupan kekal bukan di masa depan, melainkan posisi kita sekarang di dalam Kristus.

Alkitab secara jelas menghubungkan kehidupan kekal dengan Pribadi Yesus Kristus. Yohanes 17:3 merupakan ayat kunci yang menekankan hal ini, dimana Yesus berdoa, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” Di dalam ayat ini, Yesus menyamakan “kehidupan kekal” dengan pengetahuan akan Allah dan Putra-Nya. Tidak ada pengetahuan Allah tanpa Anak-Nya, karena melalui Anak-Nya sang Bapa mengungkapkan Diri kepada umat terpilih (Yohanes 17:6; 14:9).

Pengetahuan yang menghidupkan akan sang Bapa dan sang Putra adalah pengetahuan yang bersifat pribadi, bukan pengetahuan akademis saja. Pada Hari Penghakiman akan ada mereka yang mengklaim sebagai pengikut Kristus namun kenyataannya tidak pernah mempunyai hubungan dengan-Nya. Kepada pengikut-pengikut palsu ini Yesus akan berkata, “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Matius 7:23). Rasul Paulus menyatakan bahwa tujuannya adalah mengenal Tuhan, dan ia menghubungkan pengenalan tersebut dengan kebangkitan orang mati: “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati” (Filipi 3:10-11).

Di Yerusalem Baru, rasul Yohanes melihat adanya sungai yang mengalir dari “ke luar dari takhta Allah dan takhta Anak Domba,” dan “di seberang-menyeberang sungai itu, ada pohon-pohon kehidupan...dan daun pohon-pohon itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa” (Wahyu 22:1-2). Di Taman Eden, kita memberontak terhadap Allah dan diusir dari pohon kehidupan (Kejadian 3:24). Pada akhirnya, Allah memperbolehkan kita mengakses pohon kehidupan lagi. Akses ini disediakan melalui Yesus Kristus, Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia (Yohanes 1:29).

Sekarang juga, setiap orang berdosa diundang untuk mengenal Kristus dan menerima kehidupan kekal: “Barangsiapa yang haus, hendaklah ia datang, dan barangsiapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma!” (Wahyu 22:17).

Bagaimana caranya memastikan Anda mempunyai kehidupan kekal?


Pertama, akuilah dosa Anda pada Allah kita yang kudus. Kemudian terimalah Juruselamat yang telah Allah sediakan. “Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan” (Roma 10:13). Yesus Kristus, Anak Allah, mati bagi dosa Anda, dan Ia bangkit pada hari yang ketiga. Percayalah kabar baik ini; percayalah Tuhan Yesus sebagai Juruselamat Anda, dan Anda akan selamat (Kisah 16:31; Roma 10:9-10).

Yohanes menyederhanakan semua ini: “Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya. Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup” (1 Yohanes 5:11-12).

 

3.  Salah satu tokoh alkitab yang saya tiru atau dapat diteladani yang menjadikan salah satu prinsip hidup saya baik prinsip kerja, kuliah dan dimana saja dan kapan saja adalah


Apolos (Mau Belajar )


Salah satu Tokoh Alkitab yang terus mau belajar adalah Apolos.

Apolos adalah seorang Yahudi yang berasal dari kota Aleksandria, Mesir.

Apolos seorang yang cerdas, fasih berbicara dan mahir dalam Kitab Suci orang Yahudi (Perjanjian Lama).

Ia kemudian bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus, lalu pergi menginjil ke kota Efesus.

Maka dengan sangat bersemangat ia memberitakan Injil kepada orang-orang Yahudi, teman-teman sebangsanya, bahkan di sinagoge-sinagoge mereka.

Namun saat itu pengetahuan Apolos tentang Tuhan Yesus dan kekristenan sangatlah dangkal.

Karena itu Akwila dan Priskila, suami-istri Yahudi yang aktif dalam penginjilan, membawa Apolos ke rumah mereka dan mengajar dia tentang Tuhan Yesus dan kekristenan yang benar.

Dari sini terlihat bahwa Apolos adalah orang yang selalu bersedia untuk belajar, terutama firman Tuhan.

Apolos tidak merasa bahwa ia sudah tahu segalanya, ia masih terus ingin diperlengkapi oleh pengetahuan firman Tuhan.

Dan akibatnya, ketika ia pergi ke Akhaya, tepatnya di kota Korintus, ia memberitakan Injil secara efektif kepada orang-orang Yahudi (Kisah Para Rasul 18:24-28).



 

4.   

Peran Gereja di tengah Masyarakat


Makna hakikat “gereja” bukan untuk menunjuk kepada gedung atau bangunan fisiknya. Kata “gereja” menunjuk kepada umat yang telah ditebus oleh Allah dalam karya penebusan Kristus di atas kayu salib dan yang bangkit dari kematian. Gereja adalah persekutuan umat percaya kepada Kristus dan yang berada dalam konteks masyarkat, negara dan bangsa. Gereja-gereja di Indonesia adalah persekutuan-persekutuan umat percaya dalam iman kepada Kristus yang ditempatkan Allah dalam konteks Indonesia dan Pancasila sebagai payung bersama di tengah-tengah keberagaman. Karena gereja berada dalam masyarakat, maka masyarakat merupakan habitat dan konteks hidup yang integral dengan kehidupan gereja. Gereja dipanggil Allah berperan-serta secara kreatif dan konstruktif di dalam masyarakat dan pada pihak lain masyarakat dengan nilai-nilai budaya, adat-istiadat, pandangan hidup dan keunikannya akan mempengaruhi kehidupan gereja. Untuk itu gereja perlu membangun teologi yang kontekstual dan konstruktif agar mampu berperan secara transformatif di tengah masyarakat.


Hubungan gereja dan masyarakat merupakan hubungan yang saling tergantung dan membutuhkan (interdependensi) dan mutualistik dalam pengertian dipanggil untuk saling membangun dan melengkapi. Dalam hubungan yang saling tergantung dan mutualistik tersebut gereja tidak boleh kehilangan jati-dirinya sebagai umat yang ditebus oleh Kristus. Sebab akar, pondasi dan jiwa dari gereja adalah Kristus. Keberadaan gereja bukan berasal dari masyarakat/dunia, tetapi dari Kristus. Walau keberadaan gereja bukan berasal dari masyarakat/dunia, tetapi gereja diutus oleh Kristus berada di dalam dunia untuk menyatakan karya keselamatan Allah. Di Matius 5:13 Yesus berkata: “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Sebenarnya pernyataan “Kamu adalah garam dunia” kurang tepat. Seharusnya diterjemahkan dengan: “Kamu adalah garam bumi” dari pernyataan: “halas tes ges.” Dengan pernyataan “Kamu adalah garam bumi” maka kata “bumi” (ges) menunjuk pada konteks riil yaitu habitat persekutuan umat percaya. Setiap umat percaya dipanggil untuk menggarami orang-orang di sekitar seperti orang menggarami suatu masakan yang dahulu hambar kini berubah menjadi sedap. Penggunaan “garam” dalam konteks ini tidak boleh terlalu sedikit tetapi juga tidak boleh terlalu banyak. Demikian pula peran umat percaya haruslah tepat dan proporsional seperti garam, yaitu sesuai kondisi kehidupan masyarakat.


Hakikat Gereja


Istilah gereja berasal dari bahasa Portugis, yaitu kata igreya, dan kata igreya berasal dari kata Yunani yaitu kata ekklesia. Makna kata ekklesia berasal dari kata ek (keluar) dan kalein (memanggil). Dengan demikian makna kata gereja berarti umat yang dipilih dan ditebus untuk keluar dari kuasa dunia sebab Allah memanggil mereka menuju terang dan keselamatan-Nya. Umat yang telah dipanggil Allah keluar dari kuasa dosa dijadikan Allah sebagai umat percaya di dalam karya penebusan Kristus. Dengan demikian dalam makna gereja pada hakikatnya mengandung dimensi kebaruan sebagai ciptaan baru. Umat yang semula berada di bawah kuasa dosa diubah menjadi ciptaan baru di dalam Kristus. Di Surat 2 Korintus 5:17 Rasul Paulus berkata: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”

Dimensi kebaruan sebagai ciptaan baru merupakan proses yang tidak sekali jadi saat seseorang mengalami karya keselamatan Allah. Sebaliknya dimensi kebaruan tersebut seharusnya terus diperjuangkan sepanjang hidup. Kita senantiasa berada di antara proses being menjadi becoming dalam anugerah Allah dan disiplin rohani. Pembaruan status sebagai umat Allah (being) adalah anugerah Allah, dan pada pihak lain umat merespons dengan disiplin rohani melalui penyangkalan diri. Dari perspektif karya penebusan Kristus kita sudah ditebus dan dibayar dengan harga yang lunas, yaitu dengan darah Kristus. Pada pihak lain keberadaan diri kita yang sudah ditebus oleh darah Kristus (being) harus merespons terus-menerus untuk menjadi (becoming) serupa dengan Kristus. Tindakan iman untuk terus-menerus menjadi (becoming) ditempuh setiap umat percaya melalui kesediaan menyangkal diri dan memikul salib dengan setia. Yesus berkata: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” Pembaruan menjadi ciptaan baru harus senantiasa ditingkatkan kualitasnya dengan penyangkalan diri dan memikul salib Kristus dalam kehidupan sehari-hari.


Dimensi Kebaruan sebagai Gereja


Di Surat 1 Petrus 2:9 perubahan status dan dimensi kebaruan umat percaya dinyatakan: “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.” Dari Surat 1 Petrus 2:9 tersebut kita dapat melihat terdapat empat jabatan umat percaya di dalam Kristus, yaitu:

1.    Bangsa yang terpilih

2.    Imamat yang rajani

3.    Bangsa yang kudus

4.    Umat kepunyaan Allah sendiri


Makna sebagai bangsa yang terpilih menunjuk kepada tindakan Allah yang memilih berdasarkan kedaulatan dan anugerah-Nya. Dengan kedaulatan dan anugerah-Nya Allah memilih sebagian umat-Nya menjadi gereja-Nya. Pemilihan Allah tersebut bukan ditentukan oleh usaha, kekuatan, kesalehan dan kebenaran mereka. Sebaliknya keberadaan umat sebagai gereja ditentukan oleh kehendak Allah, yaitu kedaulatan dan anugerah-Nya. Dengan demikian sebagai bangsa yang terpilih, umat percaya (gereja) dipanggil Allah untuk hidup dalam kebenaran dan nilai-nilai Kerajaan Allah. Ini berarti status umat percaya sebagai bangsa yang terpilih bukan untuk menunjuk status yang lebih atau superioritas mereka di antara bangsa-bangsa lain. Sebaliknya status umat percaya sebagai bangsa yang terpilih pada hakikatnya untuk menunjuk fungsi dan peran khusus mereka untuk memberkati dan menyatakan karya keselamatan Allah bagi bangsa-bangsa di sekitar.


Makna Imamat yang rajani mengandung dua dimensi jabatan, yaitu jabatan Imam dan Raja. Dalam jabatan Imam (kohen) menunjuk tugas khusus seseorang untuk mempersembahkan korban kepada Allah. Jabatan Imam menunjuk pada seseorang yang dipakai Allah sebagai pengantara yang mendamaikan, sehingga terjadi pemulihan relasi antara umat dengan Allah. Sedang dalam jabatan Raja (melek) merupakan peran khusus seseorang yang diurapi Allah untuk memerintah dengan otoritas Allah dan kehendak-Nya. Jabatan sebagai Raja merupakan jabatan khusus dan istimewa untuk memimpin umat agar mereka mampu hidup sebagai umat Allah. Kedua jabatan tersebut yaitu Imam dan Raja merupakan orang-orang yang diurapi Allah. Para Imam dan Raja adalah orang-orang yang diurapi oleh Roh Kudus dan dilengkapi dengan karunia-karunia Roh. Jabatan umat percaya sebagai Imamat yang rajani tersebut merupakan pemenuhan dari Keluaran 19:6 yaitu: “Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Inilah semuanya firman yang harus kaukatakan kepada orang Israel.” Karena itu pernyataan Surat 1 Petrus 2:9 paralel dengan Wahyu 1:6 yang menyatakan: “dan yang telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah, Bapa-Nya, bagi Dialah kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya. Amin.”

Makna bangsa yang kudus menunjuk kepada status atau keberadaan umat yang dikhususkan Allah sehingga kehidupan mereka terpisah dari pola-pola dunia yang cemar. Karena itu sebagai bangsa yang kudus mereka harus menolak setiap hal yang cemar dalam arti yang seluas-luasnya. Kehidupan setiap umat percaya seharusnya ditandai oleh kekudusan yaitu pola hidup yang menolak segala bentuk nilai-nilai dan perilaku yang tidak sesuai dengan perjanjian Allah.


Makna umat kepunyaan Allah sendiri menunjuk pada harta kesayangan Allah sendiri. Di Keluaran 19:5 Allah berfirman: “Jadi sekarang jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi.” Jadi sebagai harta kesayangan Allah, umat percaya diingatkan akan status mereka yang mulia sehingga mereka harus hidup dalam ketaatan dan perjanjian dengan Allah.


Status yang Baru dalam Peran yang Baru


Melalui jabatan dan peran sebagai bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus dan umat kepunyaan Allah pada hakikatnya gereja sebagai Tubuh Kristus melaksanakan tujuan khusus, yaitu: “supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib” (1Petr. 2:9). Dengan keempat jabatan tersebut gereja/umat percaya memperoleh otoritas/kuasa, peran dan tanggungjawab untuk menyampaikan kabar baik tentang perbuatan-perbuatan besar dari Allah yang telah dinyatakan oleh Kristus. Dalam karya penebusan Kristus, gereja berperan menyatakan pembebasan dari kuasa kegelapan untuk menuju masyarakat yang baru di dalam Kristus. Gereja dipanggil untuk membawa perubahan dan pembaruan dalam masyarakat/dunia sehingga hidup dalam terang keselamatan Allah.

Tugas panggilan dan peran baru gereja adalah menyatakan pemerintahan Allah yang telah dinyatakan di dalam Kristus. Sebab melalui Kristus, Allah menyatakan realitas Kerajaan-Nya di tengah-tengah kehidupan umat manusia sepanjang abad. Di Lukas 11:20 Yesus berkata: “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.” Di dalam inkarnasi dan karya serta kehidupan Yesus realitas Kerajaan Allah hadir. Makna “Kerajaan Allah” yang dimaksud adalah kehadiran pemerintahan Allah yang dinyatakan dalam karya Yesus yang memulihkan, menyembuhkan, memberdayaakan dan membawa kehidupan baru. Karena itu makna “Kerajaan Allah” dalam

konteks Injil dan ajaran gereja bukanlah pendirian negara secara politis-ekonomis-militer. Sebaliknya makna “Kerajaan Allah” di dalam Kristus menunjuk pada realitas kehidupan yang dilandasi oleh nilai-nilai, spiritualitas dan karakter Allah dalam kuasa kasih, pengampunan, kemurahan, keadilan dan kekudusan-Nya. Realitas Kerajaan Allah akan menjadi lebih efektif lagi apabila diwujudkan dalam sistem perilaku, pola pikir (paradigma), sikap etis-moral, profesionalisme, pola dan kebijakan dalam pemerintahan, sistem pendidikan dan ideologi/filosofi hidup bersama. Dengan demikian realitas kuasa dan nilai-nilai Kerajaan Allah seharusnya merembes, meresapi, dan mempengaruhi seluruh aspek kehidupan sehingga menghasilkan daya cipta yang transformatif.


Tujuan atau misi kedatangan Kristus adalah terwujudnya realitas Kerajaan Allah dalam setiap segi kehidupan manusia. Karena itu gereja hanyalah alat, bukanlah tujuan. Sebagai alat gereja dipanggil untuk taat dan setia kepada Kristus agar mampu menjadi agen-agen pembaruan yang efektif. Untuk melaksanakan tugas panggilan sebagai agen-agen pembaruan Allah, maka gereja memiliki Tritugas, yaitu:


1.    Persekutuan (koinonia), yaitu pola sikap dan tindakan gereja membangun persekutuan umat yang mengasihi dan mempermuliakan Allah melalui ibadah dan perayaan hari-hari raya gerejawi serta relasi dengan setiap sesama dalam keragamannya. Spiritualitas dan panggilan membangun persekutuan tersebut menginspirasi dan menggerakkan umat untuk menjalin relasi yang dilandasi oleh kasih, kemurahan, kepedulian dan keadilan Allah. Dengan demikian melalui persekutuan, gereja membangun komunitas sebagai keluarga Allah yang inklusif.


2.    Kesaksian (marturia) yaitu pola sikap dan tindakan gereja menyatakan kebenaran dan kehendak Allah bagi seluruh ciptaan-Nya. Kebenaran dan kehendak Allah tersebut adalah Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat. Karena itu berita pertobatan dan suara kenabian yang disampaikan oleh gereja pada hakikatnya dijiwai oleh pengakuan imannya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juru-selamat dunia. Pembelaan gereja terhadap sesama yang lemah dan tertindas bukan didasari oleh sikap yang humanistis tetapi karena di dalam inkarnasi Kristus martabat kemanusiaan ditempatkan dalam keluhuran ilahi. Melalui Kristus, umat percaya dipulihkan untuk hidup menurut gambar dan rupa Allah.


3.    Pelayanan (diakonia) yaitu pola sikap dan tindakan gereja yang menyatakan kasih Allah di dalam Kristus kepada sesama dalam seluruh keberadaannya. Karena itu hakikat pelayanan gerejawi bersifat holistik. Pelayanan gerejawi bertujuan mengembalikan manusia kepada harkat dan panggilannya yang luhur. Makna pelayanan gerejawi bukanlah pelayanan sosial yang dilandasi oleh kepedulian humanistik. Pelayanan gerejawi menyatakan secara utuh belarasa dan kasih Allah kepada manusia. Melalui pelayanan gerejawi, setiap umat percaya menjadi tangan dan kaki bagi Kristus. Dengan demikian hakikat pelayanan gerejawi dijiwai oleh kasih Allah yang bersedia berkurban (agape).


Melalui Tritugas tersebut gereja berperan sebagai alat di tangan Kristus. Gereja menjadi media yang dipakai Allah yang memulihkan dan menghadirkan pendamaian dengan manusia. Dengan Tritugas tersebut, gereja melaksanakan misi Allah untuk menghadirkan keselamatan di tengah-tengah realitas dunia yang melakukan kekerasan, kekejaman, penindasan, ketidakadilan, diskriminasi dan pemujaan terhadap materi atau kultus-individu. Karena itu dalam pelaksanaan Tritugas gereja tersebut haruslah merupakan tugas yang dilakukan dengan kesungguhan hati, dedikasi yang tinggi, kesediaan berkurban, didasari oleh kompetensi tinggi, melibatkan setiap tenaga professional dan perencanaan yang matang serta visioner. Sayangnya dalam kehidupan sehari-hari kita sering menjumpai pelaksanaan program-program dalam Tritugas gereja dilaksanakan ala kadarnya. Program pelayanan gerejawi sekadar jalan agar terkesan ada kegiatan. Padahal Tritugas gereja adalah misi Allah di tengah dunia. Bobot atau kualitas dan dampak pelayanan gereja tidak boleh di bawah standar pelayanan sekuler. Perlu kita ketahui bahwa standar pelayanan sekuler justru terus mengembangkan prinsip excellence (keprimaan) dan profesionalisme. Kita harus melakukan pelayanan yang terbaik untuk Allah sebab seluruh karya dalam Tritugas gereja itu dilakukan untuk kemuliaan Allah.


Jadi bagaimanakah gereja melaksanakan Tritugas agar dapat memuliakan Allah? Bagaimanakah melaksanakan pelayanan yang terbaik sehingga membawa berkat kepada dunia? Untuk itu gereja perlu memperhatikan tujuh aspek dalam program-program pelayanan, yaitu:


1.    Perencanaan yang matang sesuai dengan situasi dan konteks jemaat serta konteks kota atau wilayah, sehingga membutuhkan analisa situasi dan riset sebelum membuat perencanaan.

2.    Visi dan misi yang jelas dan dihayati oleh setiap anggota jemaat, sehingga seluruh pola sikap dan tindakan umat didorong oleh visi dan misi gerejawi. Visi dan misi tersebut menggerakkan setiap anggota gereja untuk mewujudkannya. Visi dan misi tersebut merupakan mimpi (dream) yang menginspirasi dan memotivasi umat dalam melaksanakan tugas-tugas pelayanan yang dipercayakan kepadanya.

3.    Menjawab kebutuhan pergumulan umat dan masyarakat. Program pelayanan gerejawi merupakan respons dan tanggungjawab gereja untuk terlibat dalam persoalan-persoalan umat dan masyarakat. Prioritas tugas pelayanan gerejawi adalah menjawab kebutuhan konkret sehingga melalui program pelayanan tersebut setiap umat dan anggota masyarakat dapat merasakan dampaknya. Umat dan anggota masyarakat dapat merasakan sentuhan kasih Allah yang memulihkan dan membebaskan dalam program pelayanan gerejawi tersebut.

4.    Memiliki kompetensi sesuai dengan talenta dan minat sehingga tugas pelayanan tersebut dilakukan secara optimal. Dalam konteks ini gereja dapat menyediakan bea-siswa, pembinaan dan pelatihan sehingga para anggota jemaat tersebut mampu mengembangkan diri. Standar kompetensi menjadi standar yang harus dipenuhi oleh gereja agar melalai pelayanannya tersebut gereja memberi pelayanan yang berkualitas tinggi.

5.    Spiritualitas yang berdedikasi dan disiplin yang tinggi sehingga setiap tugas pelayanan dilakukan dengan kesungguhan hati. Dedikasi merupakan wujud sikap iman umat yang mempersembahkan diri, waktu, dan uang secara total kepada Tuhan. Disiplin merupakan karakter dan sikap yang dilakukan secara konsisten, tepat waktu dan taat kepada ketentuan yang berlaku. Karena itu melalui dedikasi dan disiplin yang tinggi setiap tugas dilakukan dengan cinta-kasih yang besar dan tanggungjawab penuh.

6.    Dapat diukur bertujuan agar setiap program pelayanan dapat dievaluasi dan dipertanggungjawabkan secara periodik. Untuk itu penyusunan program pelayanan dirumuskan dalam bahasa yang dapat diukur secara periodic melalui metode evaluasi secara kuantitatif dan kualitatif.

7.    Strategi dan metode yang tepat guna sehingga setiap program pelayanan yang ditetapkan oleh gereja dilengkapi dengan cara pencapaian yang efektif dan efisien. Strategi dan metode pencapaian tersebut dilandasi oleh prinsip-prinsip etis-moral iman Kristen sehingga tidak hanya berpusat pada nilai hasil (etika teleologis), tetapi juga bagaimanakah strategi dan metode pencapaian tersebut merupakan wujud spiritualitas iman Kristen yang bertanggungjawab (etika tanggungjawab).


Misi Gereja


Misi Gereja adalah melaksanakan misi Allah di dalam dunia ini. Untuk melaksanakan misi Allah, gereja melaksanakan pengutusan Kristus. Sebelum Yesus dimuliakan ke sorga, Ia berfirman: “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kis. 1:8). Pada tahap pertama, pengutusan Kristus tersebut dimulai dari tempat mereka berada di Yerusalem. Mereka dipanggil untuk berbenah dan bertumbuh secara internal sebagai utusan-utusan Kristus. Pada tahap kedua setelah bertumbuh secara internal mereka dipanggil untuk bergerak keluar dan terus melebar ke wilayah yang lebih luas, yaitu seluruh Yudea. Dengan demikian para murid Yesus harus meninggalkan zona nyaman mereka untuk membawa nilai-nilai Injil yang transformatif ke lingkup yang lebih luas yaitu seluruh daerah Yudea. Pada tahap ketiga barulah mereka dapat melintasi wilayah yang dianggap “kafir” oleh orang-orang Yahudi pada zaman itu, yaitu Samaria. Di tahap ini para murid Yesus menghadapi situasi orang-orang Samaria yang praktik keagamaannya telah tercampur dengan budaya Asyria. Kemudian pada tahap keempat, umat percaya diutus sampai ke ujung bumi yaitu seluruh wilayah yang lebih luas dan universal. Mereka dipanggil memberitakan Injil Kristus sebagai kabar baik di semua tempat yang jauh terpencil untuk berjumpa dengan berbagai suku dan bangsa.


Gerak pengutusan Kristus adalah gerak sentrifugal, yaitu gerak pelayanan yang semakin meluas. Karena itu pelayanan gerejawi tidak berfokus pada dirinya sendiri. Pelayanan gerejawi merupakan media pembinaan, pelatihan, pengembangan karakter dan pendalaman spiritualitas agar umat dimampukan untuk melayani lingkup yang lebih luas yaitu dunia di sekitar. Pelayanan gerejawi yang hanya berpusat pada dirinya sendiri merupakan gerak pengutusan yang bersifat sentripetal belaka. Gerak sentripetal merupakan gerak yang mengarah kepada titik pusatnya, sehingga mengembangkan sikap egoistis dan egosentrisme. Dengan demikian dalam pengutusan Kristus yang bergerak secara sentrifugal dimaknai sebagai tugas pengutusan Allah sehingga setiap umat percaya bersedia meninggalkan dorongan dan motivasi untuk menguatkan egoisme dan egosentrisme. Di Lukas 9:23 Yesus berkata: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” Umat percaya akan dimampukan untuk melaksanakan misi Allah jikalau mereka bersedia menyangkal diri dan memikul salib Kristus.


Pelayanan yang Ekumenis


Gereja sebagai Tubuh Kristus digambarkan oleh Rasul Paulus seperti berbagai anggota tubuh yang memiliki fungsi yang berbeda-beda. Di Surat 1 Korintus 12:12 menyatakan: “Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu sekalipun banyak merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus.” Dalam kehidupan gereja kita mengenal spiritualitas yang beragam. Denominasi dalam gereja terdiri berbagai macam aliran teologi dan spiritualitas. Kita mengenal gereja Roma Katolik, Gereja Orthodoks Timur, Gereja Lutheran, Gereja Calvinis, Gereja Metodis, Gereja Anglikan, dan Gereja Pentakostal. Namun sebenarnya berbagai macam denominasi tersebut kadang bersifat perbedaan yang sifatnya organisatoris dan doktrin teologis tertentu. Berbagai denominasi tersebut memiliki ciri spiritualitasnya yang khas. Padahal dalam berbagai perbedaan yang sifatnya organisatoris dan doktrin teologis tersebut memiliki kesamaan spiritualitas. Di setiap gereja atau denominasi memiliki kekayaan spiritualitas dengan tekanannya yang berbeda-beda. Minimal dari berbagai denominasi gereja tersebut terdapat enam karakter dan spiritualitas yang khas, yaitu:


1.    Tradisi Kontemplatif: suatu spiritualitas yang menekankan aspek doa dalam keheningan dan bersifat reflektif. Kehadiran Allah dialami dalam keheningan dan firman yang direfleksikan.

2.    Tradisi Kekudusan: suatu spiritualitas yang menekankan pada aspek penyangkalan diri dan ketaatan untuk mewujudkan kehidupan yang kudus di hadapan Allah.

3.    Tradisi Kharismatik: suatu spiritualitas yang menekankan aspek karunia-karunia Roh, khususnya karunia bahasa Roh sebagai tanda kehidupan baru dalam baptisan Roh Kudus.

4.    Tradisi Kerugma: suatu spiritualitas yang menekankan aspek Injil sebagai kabar baik yang harus diberitakan khususnya sebagai berita kenabian untuk menegur dan membawa dalam pertobatan.

5.    Tradisi Inkarnasional: suatu spiritualitas yang menghayati setiap peristiwa sebagai media inkarnasi Kristus sehingga setiap peristiwa merupakan media bagi Allah untuk menyatakan diri-Nya.


Keragaman dalam tradisi iman tersebut merupakan kekayaan spiritualitas yang dianugerahkan Allah dalam kehidupan jemaat. Karena itu untuk pertumbuhan iman setiap umat membutuhkan berbagai macam tradisi iman. Semakin kita mengalami pertumbuhan iman kepada Kristus, spiritualitas kita semakin terbuka untuk diperkaya oleh setiap keragaman dalam tradisi iman tersebut. Kedewasaan yang ditumbuhkan melalui berbagai keragaman spiritualitas itu memampukan kita untuk semakin efektif melaksanakan misi Allah di tengah-tengah dunia ini. Kita dimampukan untuk melaksanakan misi Allah dengan pelayanan yang bersifat sentrifugal.


Makna pelayanan ekumenis bukan berarti kita berjuang untuk menjadi jemaat Kristus yang esa secara organisatoris atau kelembagaan gerejawi saja. Hakikat gereja yang esa tidak cukup diwujudkan dengan nama atau identitas kelembagaan gerejawi yang sama. Sebab keesaan gereja secara organisatoris tidak menjamin setiap umat bersedia hidup dalam kebersamaan dan kesehatian. Makna pelayanan yang ekumenis justru menekankan aspek kebersamaan dan kesehatian dalam kasih Kristus. Mereka saling terbuka untuk diperkaya tanpa kehilangan jati-dirinya. Hakikat pelayanan yang ekumenis adalah sikap yang inklusif. Pelayanan yang ekumenis dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari yang nyata sebagai Tubuh Kristus sehingga setiap umat dari berbagai latar-belakang denominasi bersedia saling bekerja-sama dan melengkapi. Jadi pelayanan ekumenis merupakan pelayanan gerejawi yang dijiwai oleh berbagai kekayaan spiritualitas sehingga kita dimampukan berperan secara efektif sebagai Tubuh Kristus untuk melaksanakan misi Allah di tengah dunia ini.

Untuk berperan aktif sebagai Tubuh Kristus yang esa, kita perlu membuka diri bekerja-sama dengan berbagai denominasi gereja. Kerjasama tersebut bukan hanya dalam melaksanakan program-program pelayanan di tengah masyarakat tetapi kerjasama spiritualitas yang saling memperkaya pemahaman, pendalaman relasi secara personal dan komunal, berdoa bersama-sama, dan jaringan kerja yang transformatif. Pada hakikatnya kita membutuhkan rekan sepelayanan dari berbagai denominasi untuk melaksanakan misi Allah di tengah dunia ini. Apabila gereja-gereja dalam praktik masih mempertahankan tembok-tembok denominasinya, saling bersaing dan menganggap dirinya lebih baik, bagaimana gereja mampu berperan secara konstruktif di tengah masyarakat yang lebih kompleks dan beragam? Sikap gereja-gereja yang eksklusif dan menganggap dirinya lebih rohani (superior) merupakan sikap yang jauh dari spiritualitas iman Kristen. Karena setiap orang yang mengikut Kristus, ia harus menyangkal dirinya.


 

 

 

5.  Saat kita memikirkan kata moral, hal yang mungkin muncul dibenak kita ialah mengenai hal apa yang berlaku benar di dalam tata cara kita bermasyarakat, karena kita manusia, adalah makhluk sosial yang diciptakan Tuhan untuk saling bergantung satu sama lain. Oleh sebab itu, kita sebagai manusia memang lekat untuk dapat bersikap dengan bermoral. Bermoral dalam bermasyarakat, apalagi jika kita hidup di lingkungan yang teguh memegang nilai-nilai keagamaan, maka moral masyarakat kadang berasal dari serapan moral yang diajarkan agama. Tentunya nilai moral yang dari agama tidak hanya berasal dari salah satu agama saja, namun berasal dari semua agama yang sudah dianggap oleh seluruh masyarakat keberadaanya. Dengan begitu, maka semua agama mengajarkan hal yang sama, yaitu bagaimana menjadi manusia yang bermoral. Jika kita persempit, maka kita sebagai pengikut Kristus, kita belajar untuk dapat hidup bermoral secara moral Kristiani dalam hidup sementara di dunia ini.

Hidup sebagai seorang Kristiani yang juga bermoral Kristiani akan dilihat dalam beberapa hal yang menyangkut yaitu, Iman Kristiani, Norma, Pilihan dasar, Hati Nurani, Hukum, dan Dosa. Selain itu, akan ada penyangkutpautan hal-hal yang sudah dibahas dengan salah satu film relijius yang berdasarkan kisah nyata, Of Gods and Men.

1.      Iman Kristiani

Dalam dunia orang pengikut Kristus, kita percaya bahwa kita bermoral dengan dapat berbuat baik. Berbuat baik yang bagaimana? Yaitu berbuat baik yang tidak hanya menguntungkan diri sendiri, namun dapat memberikan energi baik bagi siapapun disekitar kita. Dari apa yang sudah kita pelajari dari kecil, bahwa tujuan kita untuk berbuat baik ialah untuk mendapatkan tempat di surga nanti. Padahal, itu merupakan pikiran yang mungkin dapat dibilang cukup sempit sebagai seorang Kristiani. Pandangan yang baik mengenai hidup bermoral ialah untuk menyebarkan kasih yang sudah kita terima lebih dulu dari Tuhan Yesus, anak Bapa yang tunggal yang Bapa relakan untuk menggantikan kita dalam menebus dosa yang abadi. Hidup bermoral akan mengarahkan kita menjadi dapat berbuat baik karena kita sudah merasakan kasih-Nya terlebih dahulu

2.     Norma

Dalam pengertian dasariah, kata norma berarti pegangan atau pedoman, aturan, tolak ukur. Sedangkan norma moral ialah terkait dengan kebebasan, dan tugas, keadaan lingkungan hidup dan tingkah laku moral. norma moral berfungsi mengingatkan manusia untuk melakukan kebaikan demi diri-sendiri dan sesama, sehingga meminta kita untuk memperhatikan kemungkinan-kemungkinan baru dalam hidup; norma moral menarik perhatian kita kepada masalah-masalah moral yang kurang ditanggapi manusia; norma-norma moral dapat menarik perhatian manusia kepada gejala ‘pembiasan emosional’. Jika berdasarkan penjelasan dasar di atas, maka kedudukan dan peran Yesus Kristus sebagai norma-norma hidup moral tersirat. Dalam teologi moral, untuk adanya hubungan antar manusia maka melalui metode pendekatan personal. Hubungan pribadi harus berawal dari dan berlabuh pada hubungan manusia dengan Allah dalam Yesus Kristus dan melalui Roh Kudus. Keberadaan Yesus sebagai norma hidup moral terkait erat dengan : ciri normatif Kitab Suci bagi moralitas Kristiani; hubungan dan tegangan antara imam dan moralitas.

3.     Pilihan Dasar

Tindakan manusia dalam berproses untuk menentukan sebuah pilihan dasar merupakan arah hidup dalam pribadi manusia. Manusia akan selalu disodori dengan banyak pilihan di hidupnya, karena Tuhan sendiri yang memberikan kita kebebasan dalam menentukan diri kita bagaimana cara menjalani hidup. Dengan begitu, pilihan-pilihan ini menentukan arah seorang manusia menjadi berbentuk sebuah dinamika yang tak kunjung usai dalam kehidupan. Pilihan ini berperan penting, sebab pilihan-pilihan dalam tindakan seseorang bermula dari bergantung banyak pada pilihan dasar. Rangkaian pilihan itu mengacu pada pilihan dasar yang membantu manusia dalam proses mempertimbangkan dan menilai moral. Namun sesungguhnya, dalam memilih, kita tidak sepenuhnya dapat memilih sendiri, sebab masih ada suara hati yang Tuhan pakai untuk memberikan kita waktu agar dapat memikirkan apa sebab akibat yang dapat ditimbulkan dengan memilih hal itu.

4.    Hati Nurani

Hati nurani merupakan suatu hal yang kompleks, dalam artian bahwa hati nurani tidak bisa hanya disadari saja, namun perlu untuk dipahami. Oleh sebab itu, cara pendekatan untuk mengenal lebih jauh apa itu hati nurani dalam kehidupan sehari-hari, hati nurani dapat disadari sudah muncul dalam diri kita sebagai manusia meski kita tidak pernah berpikir untuk berbuat demikian. Hati nurani dalam aspek teologal lebih condong membahas keputusan manusia yang menyangkut hubungannya dengan Tuhan. Dalam pembahasan yang dilakukan oleh para ahli, menyebutkan permasalahan mengenai bagaimana munculnya hati nurani merupakan hal yang rumit. Dewasa ini, manusia sering memakai atau tertarik untuk membahas mengenai hati nurani kalau mereka ingin memprotes tentang kehidupan menurut sudut pandang manusia  yang tidak menjunjung tinggi norma yang berlaku dalam kalangannya sehingga dianggap tidak etis dalam bertindak.

Dengan begitu, setidaknya ada 3 pandangan dasar tentang hakikat hati nurani yang akan dikemukakan mengenai hati nurani. Pertama, umumnya yang dimaksud dengan hati nurani adalah keputusan konkret melalui penalaran praktis, berkat pengaruh kekuatan dalam hati nurani, yang menyangkut kebaikan moral dalam tindakan tertentu. Selain konkret, hati  nurani juga mempunyai sifat subjektif, individual dan eksistensial. Dalam hal ini, maka hati nurani lebih dipandang sebagai keputusan moral praktis yang memberitahukan kepada manusia dalam suatu keadaan konkret sambil mengingatkan manusia akan kewajiban moral yang perlu dipenuhi. Kedua, hati nurani dipandang sebagai kecakapan moral seseorang, “sanggar suci” terdalam manusia, tempat manusia mengenal dirinya dihadapan Tuhan dan orang lain. Hati nurani merupakan kedalaman keberadaan manusia yang sesungguhnya, pusat terdalam pribadi yang tertuju pada Tuhan yang memelihara manusia. Ketiga, hati nurani tidak lagi dipandang sebagai suatu “kecakapan di dalam kehendak dan intelek”, tetapi dilukiskan sebagai “tenaga dinamis” dalam diri manusia, yang memungkinkan pribadi manusia untuk memberikan tanggapan yang tepat dan benar dalam kehidupan seseorang.

5.     Hukum

Jika kita berbuat salah, apa yang akan kita pikirkan ialah kita akan mendapatkan sebuah sanksi, karena pada hakikat di dunia yang kita tempati ini, kita akan dianggap tidak bermoral jika berperilaku tidak sesuai dengan norma moral yang ada. Sanksi yang dapat kita terima memiliki banyak macam. Namun semuanya itu diatur dalam suatu aturan yang kita sebut hukum. Hukum yang dibuat oleh manusia tentunya berbeda dengan hukum yang Tuhan buat  untuk kita. Hukum Allah diringkaskan dalam kasih. Ada dalam Alkitab, Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah yang terutama dan yang pertama. Dan yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua inilah tergantung seluruh Taurat dan kitab para nabi”(Matius 22:37-40)

6.    Dosa

Kita hidup di dunia yang tidak  sempurna. Kita hidup dengan orang-orang yang sudah menanggung dosa lahir. Itulah yang kita mengerti bila kita seorang Kristiani. Paham dosa dalam Kitab Suci disebutkan bahwa dosa merupakan bentuk dari perlawanan atau pemberontakan terhadap Allah yang dapat muncul akibat adanya kebebasan yang dimiliki oleh manusia. Pemberontakan akan nubuat Allah ataupun aturan yang dibuatnya. Sementara, paham dosa dalam tradisi Katolik adalah suatu bentuk sikap negative atau menolak uluran kasih Tuhan merupakan pandangan baru terhadap pengertian dosa karena sebelumnya setiap pelanggaran hukum diartikan sebagai dosa. Namun, tidak semua hukum di dunia ini merupakan kebalikan dari dosa. Oleh karena itu, dosa sekarang dideskripsikan sebagai sikap dan pendirian menolak Allah serta kasih-Nya. Jika pengertian di atas dirangkumkan, maka dosa adalah suatu tindakan jahat secara moral yang dilakukan berdasarkan kebebasan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hukum Allah. Dalam Perjanjian Lama, orang-orang yang melakukan dosa ialah orang terkutuk yang akan langsung diadili oleh orang lain. Pengampunan pada masa itu ialah dalam bentuk kurban. Namun, pada Perjanjian Baru, Allah kembali ingin merangkul manusia dengan membentuk kembali jembatan yang sudah putus dengan mengirim anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus. Yesus mati di kayu salib untuk menebus semua dosa manusia dan  bangkit lagi untuk menunggu hari penghakiman kita yang sudah ditebus.


Dalam film relijius Of Gods and Men diangkat dari kejadian nyata di tahun 1996. Sudah puluhan tahun mereka melayani dan hidup damai berdampingan bersama warga desa di atas pegunungan Atlas—beberapa diantaranya bahkan merasa sia-sia jika harus kembali ke Prancis. Kemunculan milisi agama lain yang fundamentalis mengubah semuanya. Mereka tidak hanya mengancam biara, tetapi juga seluruh warga desa. Akhir cerita, setelah beberapa lama tarik-menarik dengan milisi dan militer, delapan biarawan menemui nasib tragisnya, diculik, dan dibunuh. Pembunuhan yang hingga kini masih misterius itu merupakan satu dari episode panjang pembantaian warga sipil. Namun, yang ingin kita lihat bukan kepada dampak apa yang akan dihadapi pelaku, tetapi kita menilik langsung kehidupan para biarawan yang masih ingin mempertahankan keberadaan mereka dan keberadaan masyarakat lainnya dengan kasih. Hal itu patut kita contoh karena seluas apapun ajaran yang diberikan kepada kita, tujuannya ialah untuk mendapat dan memberikan kasih. Karena jika kita telaah lebih dalam lagi, maka moral Kristiani ialah berdasarkan kasih dan oleh kasih.


 


JAWABAN UJIAN AKHIR SEMESTER 01 PENDIDIKAN AGAMA DAN ASAH SKILL KAMPUS MILENIAL ITBI

  NAMA            : JUNITA SIMANJUNTAK KELAS            : PAGI JURUSAN             : AKUNTANSI                 1.  ...